Senin, 08 Februari 2021

Jemuran

    Aku bahkan tidak tau harus memulai dari kata apa. Tujuanku hanya satu, menyelesaikan tulisan ini secepat mungkin dan setidaknya satu dari to do list ku hari ini selesai. Dan sialnya, aku kira aku tidak memiliki bakat untuk ini. Jelas saja, aku baru selesai dari YouTube untuk lihat bagaimana Raditya Dika menulis. Dan syukurnya memang ada work shopnya tentang tips menulis di sana. Namun, karena otakku ini hanya sebesar bulir padi yang tak berisi, ribuan kali kutontonpun hanya membuat rabun jauhku bertambah parah. Proses menulisku semakin bertambah buruk, selain faktor internal kemampuan otak yang tidak mumpuni, alampun mendukungku untuk berhenti dan seolah berkata "ya sudahlah, berhenti saja, kau hanya akan mencoreng nama baik penulis hebat". Ketika jari-jariku sedang asyik di atas keybord (entah apa yang kuketik), hujan diluar seolah memintaku untuk menyerah dan berhenti. Dan hampir saja aku menuruti itu, jika bukan karena jemuran tadi sore yang lupa kuangkat mungkin sekarang aku sedang bermimpi ada di konser One Ok Rock. Bukan. Namun, karena memang masih basah dan itu bukan alasan yang baik untuk menyelematkan pakaian kita kan? Kalau memang kau ingin seisi kamarmu bau apek, ya silahkan saja. Kau tahu, ini momen paling dilematis saat ini, ketika aku benar-benar menemukan cara yang tepat untuk  terlelap, namun harus dihadapi dengan bayang-bayang usahaku siang tadi mencuci, kucek, nyikat, belum lagi jins, kain sprei, handuk, dan semuanya sudah direndam dengan pewangi. Usaha itu akan sia-sia oleh hujan. Tapi aku tidak bisa bohong, aku terlalu lelah untuk bangun, lebih tepatnya malas.  
        Bicara tentang jemuran, aku punya pengalaman buruk. Menjadi korban penculikan jemuran. Yap, beberapa hari lalu. Tadinya aku tidak percaya, teoriku cuma dua, jika pakaian anda tidak ditemukan dijemuran, coba chat di grup whats app kos saudara sekalian, pasti teman-teman kos anda yang masih tahu diri dan memiliki hati nuraninya akan dengan senang hati bilang "Iya, ada di saya, maaf tidak sengaja diangkat". Kedua, mungkin kebawa angin. Oke yag terakhir ini agak meragukan. Atau memang duniaku yang begitu-begitu saja, sehingga peristiwa "maling jemuran" ini yang bukan baru lagi, menjadi hal paling mencengangkan yang pernah aku alami. Setidaknya, aku tahu, selera fashionku masih diminati orang lain, buktinya dia harus merelakan waktu untuk mencuri pakaianku, mungkin dia sempatkan untuk sortir, atau mix & match pakaian mana yang akan dia ambil. Atau memang dia kasihan, dan mikir "kasihan ni anak kalau semua pakaian dijemurannya saya ambil, anak kosan pula. Beli makan saja susah, gimana mau beli pakaian baru" Jadilah hanya beberapa yang dia ambil. Melalui ini, sebagai korban, ada yang ingin aku bilang:
   Dear maling, celana pendek yang kau curi itu adalah celana yang kudapat dari hasil pencarianku di rombengan, pasar inpres dengan harga 30K, sedangkan bajunya, aku maklumi kalau hilang, akupun mencurinya dari temanku sendiri ketika dia menginap di kosanku. Bukti nyata karma sesungguhnya. Selamat malam maling jemuran, malam ini hujan. Istirahtkan dirimu, apa kau mau terkena flu. Jangan ambil jemuranku, kalau masih nekat juga, ambil saja milik orang lain, di kos sebelah misalnya. 
    Selamat tidur maling jemuranku, semoga cepat kau tobat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jemuran

     Aku bahkan tidak tau harus memulai dari kata apa. Tujuanku hanya satu, menyelesaikan tulisan ini secepat mungkin dan setidaknya satu da...